sungai lukulo, kebumen...bagi sebagian masyarakat sekitar adalah sumber matapencaharian mereka, mereka menggali pasir2 disungai itu utk dijual dan hasil dri penjualan pasir itulah sebagai penyambung hidup mereka....tapi lama kelamaan pasir2 disungai tsb akan terkikis dan terjadi erosi di pinggir2 sungai,, hrsnya pemerintah memberi solusi bagi mereka.....
mama avis
Senin, 10 September 2012
Selasa, 07 Juni 2011
Tika, Gadis Manis yang Meninggal Karena Jadi Perokok Pasif

Noor Atika Hasanah (dok. pribadi)
Begitulah tulisan Noor Atika Hasanah dalam statusnya di Facebook dan Twitter, tiga hari sebelum kematiannya yang mengagetkan rekan-rekannya di jejaring sosial.
Bagaimana teman-temannya tidak kaget, karena 10 jam yang lalu, perempuan kelahiran 8 November 1982 itu masih sempat membuat status di Twitter dan Facebook.
Dalam status Facebook dan akun Twitternya @tikuyuz, perempuan yang oleh teman-temannya disapa Tika ini menulis status terakhirnya, bahwa ia sudah satu malam berada di RS Sulianti Saroso Sunter dan sedang menunggu hasil infeksinya.
Namun tiba-tiba pada Kamis 30 Desember 2010 pukul 14.00 WIB, dikabarkan perempuan manis tersebut telah meninggal dunia.
Tika adalah salah satu korban yang meninggal akibat perokok pasif. Dalam status-statusnya Tika menegaskan dia tidak merokok tapi dia adalah korban dari asap si perokok.
Dia menulis dirinya terkena flek paru dan divonis dokter menderita Bronchopneumonia Duplex. Meski sudah divonis menderita penyakit paru parah, dia mengaku tidak menyerah dengan penyakit ini.
"Well, hello Bronchopneumonia Duplex! I'm not afraid of you :))," kata Tika dalam status Twitternya pada 24 Desember 2010.
Akibat penyakitnya ini Tika mengaku berat badannya melorot hingga 35 Kg padahal normal berat badannya 42 Kg. Penyakitini telah membuatnya sering mengalami sesak napas, batuk keras dan pilek.
Kematian Tika kembali menyadarkan orang betapa bahayanya efek merokok walaupun kita bukan perokok. Sudah tak terhitung berapa banyak korban sakit paru-paru dari orang yang bukan perokok. Terperangkap dalam lingkaran para perokok, membuat si perokok pasif punya potensi 30 persen terkenapenyakit mematikan mulai dari flek paru hingga kanker paru-paru.
Perokok pasif biasanya menghirup asap yang berasal dari pembakaran rokok dan juga asap yang dikeluarkan oleh seorang perokok aktif. Menjadi perokok pasif sebenarnya tanpa disadari telah membuat seseoran menjadi perokok. Biasanya perokok pasif ini berada di rumah, mobil, tempat kerja dan tempat-tempat umum lainnya seperti bar.
Untuk melihat seberapa besar perokok pasif terpapar asap rokok dapat diuji dengan mengukur kadar nikotin, cotinine dan karbon monoksida dalam darah, air liur atau urinnya. Cotinine ini adalah suatu hasil produk metabolisme nikotin dalam tubuh.
Didapatkan lebih dari 4.000 zat kimia yang terdapat dalam asap rokok. Sedikitnya 250 zat berbahaya dan 50 diantaranya menyebabkan kanker terkandung dalam sebatang rokok.
Zat kimia tersebut seperti arsenik (logam berat beracun), benzene (bahan kimia dalam bensin), beryllium (logam beracun), kadmium (logam yang digunakan untuk baterai), etilen oksida (bahan kimia untuk mensterilkan alat medis), vinil klorida (zat toksik untuk membuat plastik) dan zat lainnya.
Dilansir dari National Cancer Institute, badan internasional untuk penelitian kanker (IARC) telah mengklasifikasikan asap rokok pada manusia sebagai karsinogen (zat penyebab kanker). Karenanya orang yang tidak merokok tapi sering menghirup asap rokok juga memiliki kemungkinan terkena kanker paru.
Diperkirakan orang yang menjadi perokok pasif berpeluang terkena kanker paru-paru 20 sampai 30 persen. Tapi jika perokok pasif tersebut tinggal bersama dengan seorang perokok aktif maka peluangnya menjadi lebih besar. Karena ada kemungkinan orang tersebut terpapar asap rokok setiap harinya, sehingga akumulasi dari zat-zat kimia tersebut semakin besar.
Beberapa penelitian lain menunjukkan asap rokok tak hanya menimbulkan kanker paru-paru saja, tapi juga kanker payudara, kanker rongga sinus hidung, leukimia, limfoma dan tumor otak pada anak-anak. Tapi masih diperlukan penelitian lebih lanjut untuk hubungannya dengan kanker-kanker ini.
Paparan dari asap rokok ini bisa mengiritasi saluran udara dan memiliki efek bahaya langsung terhadap jantung dan pembuluh darah. Di Amerika Serikat sendiri perokok pasif telah menyebabkan penyakitjantung sebesar 46.000 setiap tahunnya.
Jika Anda seorang perokok pasif dan tidak ingin terkena kanker paru-paru, sebaiknya hindari tempat-tempat yang memiliki asap rokok serta cobalah untuk tidak terlalu dekat dengan perokok. Selain itu, perbanyak makanan yang mengandung antioksidan dan terapkan pola hidup sehat. Dan buat para perokok menjauhlah agar orang-orang terdekat Anda tidak menjadi korban.
(ir/up)
Redaksi: redaksi[at]detikhealth.com
60 Persen Penderita Hepatitis di Indonesia Sulit Diobati
(Foto: thinkstock)
"Penderita hepatitis di Indonesia paling banyak memiliki genotipe virus 1A dan 1B yang termasuk jenis virus yang sulit diobati," ujar Prof Dr Ali Sulaiman, SpPD-KGEH dalam acara Pelatihan Manajemen Hepatitis C di Gedung A RSCM, Selasa (15/3/2011).
Prof Ali menuturkan genotipe dari hepatitis bermacam-macam dan sekitar 60 persen penderita hepatitis di Indonesia disebabkan oleh virus yang sulit diobati. Hal ini karena virus tersebut mudah bermutasi sehingga sulit ditemukan vaksinnya.
"Sistem imun yang sudah ada dibuat sulit mengenali atau melihat virus tersebut, jadi dalam istilah kasarnya virus ini seperti 'bunglon'," ungkap dokter yang mendapatkan gelar PhD dari Kobe Jepang tahun 1989.
Prof Ali mengungkapkan penyakit hepatitis ini biasanya ditularkan melalui darah yang sebagian besar akibat kontak luka dengan luka, seperti jarum suntik, gunting kuku, alat menikur dan pedikur atau dari alat cukur rambut.
Sebagian besar orang yang terinfeksi hepatitis (9 dari 10 penderita) tidak menunjukkan gejala sehingga disebut sebagaisilent disease, padahal jika tidak ditangani dengan baik sekitar 15-20 tahun mendatang bisa menyebabkan kelainan hati serius seperti sirosis dan juga kanker hati.
"Masalah hepatitis sebaiknya mendapat perhatian yang serius karena jumlahnya 10 kali lipat lebih tinggi dibandingkan dengan penderita HIV," ujar Dr Unggul Budihusodo, SpPD-KGEH.
Berdasarkan survei yang melibatkan departemen P2PL Kemenkes, Roche dan PPHI pada tahun 2007 diketahui dari 21 propinsi yang ada di Indonesia jumlah penderita hepatitis C paling banyak pada usia 30-39 tahun yaitu sebesar 26,9 persen dengan jumlah laki-laki lebih banyak, dan penularannya paling banyak berasal dari penggunaan jarum suntik secara bergantian.
"Saat ini skrining masih menjadi masalah di Indonesia. Jika program skrining bisa dilaksanakan di Jakarta saja maka setiap bulannya akan dijaring 50 ribu kasus hepatitis B dan 15 ribu kasus hepatitis C. Jika terdeteksi lebih awal maka bisa mencegah kelainan hati yang serius," ujar Prof Ali.
Sebagian besar penderita hepatitis baru mengetahui jika dirinya terinfeksi saat melakukan pemeriksaan kesehatan (medical chek up) atau saat mau donor darah. Padahal penyakit ini bisa menurunkan kualitas hidup seseorang dan menimbulkan komplikasi serius.
Penyakit hepatitis ini sudah ada sejak abad 5 SM (sebelum masehi) dan dikenal dengan nama penyakit kuning, tapi sekarang penyakit ini dikenal dengan nama hepatitis. Terdapat berbagai macam jenis virus hepatitis yaitu hepatitis A, B, C, D, E dan G. Namun infeksi yang paling sering ditemukan dan menjadi masalah kesehatan dunia adalah hepatitis B dan C.
(ver/ir)
Redaksi: redaksi[at]detikhealth.com
Senin, 06 Juni 2011
Dinyatakan Positif Hepatitis HBS AG....
Untuk menyatakan seseorang terkena enyakit hepatitis virus aktif perlu adanya gejala gangguan fungsi hati yang dapat diketahui dari uji saring serologik seperti yang annada lakukan. Tetapi itu sebenarnya belum cukup bila tanpa disertai tes untuk keberadaan virus. HBSAg = hepatitis (virus) B "Surface" (="Permukaan") Ag, baru bagian dari virus yang biasanya akan cukup lama positifnya, baik untuk penderita Hepatitis "abortif" (terinfeksi tetapi tidak menderita sakit / tidak keluar gejala) atau yang kemudian menderta ringan / subklinik = "carrier", dan saat benar-benar terinfeksi plus gejala hepatitis virus, disertai tes fungsi hati yang menyimpang tentunya. Jadi dari hanya data singel atas tes HBSAg serologik, masih belum bisa dijadikan bukti acuan yang kuat, oleh karena itu ananda masih perlu observasi lebih lanjut. Bila HBCAg plus gejala klinik dan serologik-nya bener-benar menjadi positif, barulah menandakan ananda benar-benar menderita HB Aktif, yang bisa menular secara parenteral (kontak langsung darah dengan cara-cara seperti transfusi, suntikan dengan jarum yang dipakai bersama secara berurutan, luka-luka kecil mulut atau saluran lainnya). Diet - upaya terapi akan sangat ditentukan oleh berat - luas jaringan / sel hati yang telah terkena infeksi virus. Saat ini ananda bisa melakukan langkah preventif dengan hidup sehat dan jangan menambah resiko dengan kontak langsung dengan penderita hepatitis virus. Jangan keburu stres dulu dengan keadaan yang telah ditemukan, karena secara perlahan namun pasti, stres dapat mempengaruhi dan menurunkan status imun tubuh. Tindakan terbaik untuk menanggulangi virus Hepatitis B (ataupun virus Hepatitis jenis lainnya) adalah deteksi segera, vaksinasi segera dan obati segera. Tim konsultasi mediasehat juga beranggotakan apoteker dan mengatakan telah ada sediaan vaksinasi Hepatitis B, yaitu dengan nama Intron Alfa (isinya virus Hepatitis B rekombinan dengan interveron). Pengobatan Hepatitis B yang telah ada di Indonesia adalah dengan menggunakan interveron-alfa (sediaan suntikan) dan lamivudine (atau yang biasa disebut juga dengan sebutan 3TC-HBV, sediaan oral). Saat ini juga telah ada Adefovir Dipivoxil (Hepsera), anti virus oral baru yang menekan replikasi virus pada saat mengalami mutasi. Seperti halnya Lamivudine (3TC-HBV), Hepsera memberikan manfaat pada perbaikan jaringan hati. Obat dan preparat untuk hepatitis itu termasuk golongan obat keras, jadi kalaupun ternyata ananda telah dinyatakan benar-benar positif kena hepatitis B, maka ananda harus dan dipastikan akan benar-benar berada dalam pengawasan dokter untuk pemakaian obat dan pemantauan kesehatan ananda sampai ananda dinyatakan sembuh atau minimal kondisi membaik.
HBsAGg HBeAg dan SGOT-SGPT pada hepatitis B
Setelah menyimak percakapan teman yang gagal masuk ke salah satu perusahaan ketika dia melamar kerja di salah satu perusahaan tambang batu bara gara-gara dia menderita Hepatitis B, kemudian saya pun melihat lihat hasil test darah (meski sebenarnya belum ngerti juga) dari pemeriksaan teman saya itu.
Agak bingung juga sih melihat istilah istilah Seperti HBsAg, HBeAg SGOT dan SGPT yang dalam hasil test darah teman saya yang penderita HBsAg positif itu.
Dari hasil browsing saya mendapatkan beberapa informasi mengenai apa yang di maksud dengan HBsAg, apa yang di maksud dengan HBeAg, dan Apa yang di maksud dengan SGOT dan SGPT, jawaban yang saya dapatkan dari browsing kira-kira sebagai berikut.
HBsAg adalah singkatan dari Hepatitis B surface Antigen, Merupakan semacam protein/Enzim yang di hasilkan oleh Virus Hepatitis B,HBsAg ini yang pertama kali di temukan pada saat virus mulai menginfeksi hati, jadi jika di dalam darah ada HBsAg menunjukan Positif atau jumlah tertentu itu menunjukan adanya Virus Hepatitis B di dalam hati.
HBeAg Adalah singkatan dari Hepatitis B E-Antigen merupakan semacam protein/Enzim yang yang akan muncul ketika Virus Hepatisi B mereplika diri / mengembangkan diri, yang juga berarti infektivitasnya (kegiatan menginfeksi) juga meningkat. meskipun pada beberapa jenis virus hepatitis B yang saat mengembangkan diri namun tidak di temukan adanya antigen “e” atau tidak terdeteksi.
Pada penderita Hepatitis B Kronis atau menahun, bisa di golongkan menjadi 2 yaitu penderita Hepatitis B dengan HBeAg positif dan Penderita Hepatitis B dengan HBeAg negatif.
Secara sederhana bisa di jelaskan, apa bila HBsAg Positif dan HBeAg juga positif itu berarti Di dalam tubuh Pasien terdapat Virus Hepatitis B yang aktif atau mengembangkan diri, yang berarti juga bisa menular. seberapa besar pengembangan Virus tersebut dapat di lihat dari Angka HBeAg atau seberapa banyak enzim yang di hasilkan oleh sel yang teinfeksi virus Hepatitis B.
Apa Bila HBsAg positif dan HBeAg negatif berarti Penderita Hepatitis B dengan Virus yang tidak aktif atau tidak mengembangkan diri dan juga tidak menular.
Namun demikian, menurut beberapa tulisan yang saya baca, Pasien dengan HBeAg positif justru lebih responsif terhadap pengobatan, yang artinya kemungkinan sembuhnya lebih tinggi di banding Pasien HBeAg negatif.
SGOT dan SGPT adalah pemeriksaan untuk fungsi hati dan jantung, apa bila nilainya tinggi di atas nilai normal, itu berarti ada kerusakan dalam hati atau jantung, untuk itu di butuhkan pemeriksaan lebih lanjut, penderita Hepatitis B juga salah satu penyebab SGOT dan SGPT di atas normal.
(Visited 2,717 times, 43 visits today)Post Terkait
Kunci Keberhasilan Penyembuhan Penyakit Hati
Penyakit hati bermacam penyebabnya, berbeda-beda perjalanan penyakit dan penanganannya. Bila seorang dokter berhadapan dengan pasien yang diduga menderita penyakit hati maka perlu dibedakan apakah pasien tersebut menderita penyakit hati akut atau penyakit hati kronik, kemudian mencari apa penyebabnya. Hal ini penting diketahui karena perjalanan penyakitnya berbeda dan tentu saja memerlukan penanganan yang berbeda pula. Kegagalan pengobatan terjadi karena salah memperkirakan musuh, sehingga obat yang mahal menjadi sia-sia. Diagnosis yang akurat membantu dokter untuk memilih obat ampuh mana yang sebaiknya digunakan
Pemeriksaan laboratorium
Pemeriksaan pertama adalah dengan Panel Fungsi Hati untuk mengetahui adanya gangguan fungsi hati. Indikator yang dicari adalah: SGOT, SGPT, gamma GT, fosfatase alkali, bilirubin total, bilirubin direk, dan protein elektroforesis.
Pemeriksaan berikutnya adalah pemeriksaan seromarker untuk mengetahui penyebab penyakit hati, status kekebalan, aktivitas penyakit atau daya tular.
Untuk mendeteksi adanya muatan virus, pemantauan pengobatan dan penentuan prognosis pengobatan, pemeriksaan dilakukan pada tingkat molekular (DNA/RNA virus). Nama pemeriksaannya adalah HBV-DNA (untuk hepatitis B) dan HCV-RNA (untuk hepatitis C).
Pemeriksaan lain
Untuk tahap yang lebih lanjut, misalnya diduga terjadi sirosis atau kanker hati, diperlukan pemeriksaan berikut:
- Pemeriksaan USG (ultrasonografi) hati.
- Pemeriksaan foto saluran makanan bagian atas untuk melihat adanya varises oesofagus serta CT Scan hati.
- Bila perlu dilakukan pemeriksaan biopsi hati, dengan mengambil sel dari jaringan hati untuk diperiksa di bawah mikroskop oleh dokter ahli.
Diagnosis Penyakit Hati Akut
Dokter akan meminta untuk melakukan pemeriksaan fungsi hati. Umumnya aktivitas enzim transaminase (SGOT dan SGPT) meningkat dan akan turun pada minggu kedua sampai ke tiga (masa inkubasi). Untuk mengetahui apakah sudah sembuh secara klinis, diperiksa Gamma GT, enzim yang menunjukkan kondisi kesehatan telah kembali normal.
Kondisi pasien hepatitis akut biasanya baik, mereka datang ke dokter karena mata kuning, mual, muntah atau nyeri perut kanan atas. Bila menghadapi pasien demikian, biasanya dokter akan memperhatikan usia pasien, menanyakan kondisi lingkungan tempat tinggalnya, menanyakan kebiasaan makan, dll. Jika pasien berusia muda, sering makan makanan laut dan sayuran mentah (salad, buahbuahan) maka dugaan kuat pasien tersebut mengalami hepatitis akut akibat virus tipe A. Disamping karena virus hepatitis A, penyakit hati akut dapat juga disebabkan oleh virus hepatitis B, C atau E. Untuk memastikan diagnosis, diperlukan pemeriksaan laboratorium (seromarker).
Penanda virus yang perlu diperiksa adalah :
- Anti-HAV IgM untuk hepatitis A,
- HBsAg, anti-HBsAg, anti-HBc, anti-HBc IgM, HBeAg, anti-HBe dan HBV-DNA untuk
- hepatitis B
- Anti-HCV, anti-HCV IgM, HCV-RNA untuk hepatitis C
- Anti-HDV IgM untuk hepatitis D
- Anti-HEV IgM untuk hepatitis E
Hepatitis akut, pada umumnya tidak berbahaya, dalam waktu singkat akan sembuh sendiri, pasien tidak perlu masuk rumah sakit, cukup istirahat di rumah dan makan tinggi kalori tinggi protein sesuai selera pasien. Pada umumnya tidak perlu diberi obat, vitamin hanya diberikan jika kurang nafsu makan atau asupan makanan kurang. Yang penting, pasien dipantau dengan pemeriksaan darah seminggu 1-2 kali. Jika kadar sudah normal boleh beraktivitas seperti biasa. Olah raga diperbolehkan jika 2 kali masa sakit sudah dilewati (misalnya sakit selama 2 minggu sembuh, maka olah raga boleh dilakukan 1 bulan setelah sembuh atau fungsi hati normal).
Kadang-kadang, dapat terjadi hepatitis fulminan (ganas) yang dapat berakibat fatal, tetapi kejadian ini sangat jarang. Kasus ini, biasanya disebabkan oleh virus B, ditandai dengan demam, muntah, perdarahan yang dapat berlanjut ke tahap prekoma/koma hepatik. Lebih dari 90% kasus hepatitis fulminan akan berakhir dengan kematian. Jadi, walaupun pada umumnya gejala yang dirasakan pasien hepatitis akut ringan dan tidak perlu dirawat, tetapi bila pasien tampak sakit berat, muntah hebat hingga kondisi fisik lemah, disertai demam tinggi dan mata kuning sekali maka sebaiknya pasien dibawa ke rumah sakit.
Diagnosis Penyakit Hati Kronis
Sebagian besar penyakit hati kronis disebabkan oleh virus hepatitis B atau C. Biasanya pasien datang ke dokter tanpa gejala tetapi dengan membawa hasil check up yang menunjukkan hasil pemeriksaan HBsAg positif atau anti-HCV positif. Penyakit hati kronis ada beberapa jenis yaitu hepatitis kronis, sirosis dan hepatoma. Bila ada dugaan kuat penyakit hepatitis kronis, maka langkah penting berikutnya adalah pemeriksaan laboratorium (Panel Pemeriksaan Fungsi Hati).
• Bila hasil pemeriksaan fungsi hati normal, pasien tidak perlu khawatir (meskipun hasil HBsAg atau anti-HCV positif). Biasanya dokter menganjurkan pasien tersebut untuk melakukan pemeriksaan (fungsi hati) secara berkala setiap 6 bulan untuk mendeteksi kemungkinan perubahan fungsi hati atau terjadinya serokonversi. Selain itu, perlu diperhatikan risiko penularan terhadap orang disekitarnya, terutama anggota keluarga yang lain. Bila perlu dilakukan skrining pada anggota keluarga yang lain atau upaya pencegahan misalnya dengan vaksinasi (hanya tersedia vaksin untuk hepatitis B).
• Bila hasil pemeriksaan fungsi hati menunjukkan hasil abnormal maka perlu diperiksa lebih lanjut penanda virus lainnya yaitu HBeAg dan HBV-DNA (untuk kasus hepatitis B atau bila HBsAg positif) serta HCV-RNA (untuk kasus hepatitis C atau anti- HCV positif). Pemeriksaan HBeAg, HBV-DNA dan HCV-RNA, penting untuk memperkirakan respon pengobatan.. Pada kasus HCV-RNA positif, perlu dilanjutkan dengan penentuan tipe atau genotyping untuk menentukan lamanya pengobatan mengingat efek samping dan harga obat yang mahal. Selain itu, pemeriksaan HBVDNA atau HCV-RNA (kuantitatif) perlu dilakukan untuk memantau hasil pengobatan.
Untuk penanganan pasien hepatitis kronis, biasanya dokter menganjurkan agar pasien mengatur aktivitasnya agar tidak terlampau lelah, makan bebas tinggi kalori tinggi protein dan sesuai selera, makan vitamin untuk liver dan pengobatan bila perlu.
Pada kasus sirosis hati, kadar SGOT dan SGPT umumnya normal, sedangkan hasil pemeriksaan elektroforesis protein abnormal dimana albumin rendah sedangkan globulin dan gamma globulin
tinggi. Untuk penanganannya, pasien dianjurkan banyak istirahat, makan bebas tinggi kalori tinggi protein sesuai selera, makan vitamin untuk liver. Pengobatan dilakukan bila ada komplikasi/penyulit misalnya muntah, tinja berwarna hitam (berdarah), perut membuncit dan keasadaran menurun.
Untuk mendeteksi hepatoma (kanker hati) perlu dilakukan pemeriksaan AFP (Alpha Fetoprotein). Pada stadium dini, pengobatan dilakukan dengan cara operasi, sedangkan pada stadium lanjut biasanya diberikan kemoterapi.
#dari berbagai sumber
Langganan:
Postingan (Atom)